
Ketua Umum DPN Lembaga Independen Pembawa Suara Transparansi (INPEST) Ir. Ganda Mora.SH.,M.Si (Foto-Ist-DPN-INPEST)
Jakarta, Berita Presisi.com Lembaga INPEST – Indonesia sebagai penghasil CPO terbesar namun dengan tingkat penerimaan negara relatif kecil sehingga Lembaga Independen pembawa Suara Transparansi mendesak pemerintah mengubah total pola ekspor CPO dari bahan mentah menjadi produk hilir bernilai tinggi. Langkah ini dinilai jauh lebih produktif dibanding program konsumtif jangka pendek untuk mengerek pertumbuhan ekonomi dan devisa negara
.“Selama ini kita bangga jadi eksportir CPO nomor 1, tapi 60% yang kita jual masih minyak mentah. Nilai tambahnya dinikmati Malaysia dan Eropa. Hilirisasi wajib jadi prioritas belanja negara, bukan sekadar bagi-bagi,” tegas Ketum DPN INPEST Ir. Ganda Mora.SH,.M.Si Kepada Wartawan , Rabu 3/6/2026.
“Selama ini kita bangga jadi eksportir CPO nomor 1, tapi 60% yang kita jual masih minyak mentah. Nilai tambahnya dinikmati Malaysia dan Eropa. Hilirisasi wajib jadi prioritas belanja negara, bukan sekadar bagi-bagi,” tegas Ketum DPN INPEST
Berdasarkan data BPS dan GAPKI 2025, struktur ekspor CPO Indonesia masih didominasi produk hulu:
Jenis Produk CPO | Volume Ekspor 2025 | Harga/Ton | Nilai Devisa | % Total
Seperti
Dampaknya ke neraca dagang: Meski volume CPO naik, devisa stagnan karena harga CPO fluktuatif. Saat harga jatuh ke $600/ton, petani langsung rugi.
INPEST membandingkan dampak alokasi APBN Rp365 triliun/tahun untuk dua skenario:
Indikator | Skenario A: Program Konsumtif | Skenario B: Hilirisasi CPO 3 Tahun
Sumber Dana Alokasi APBN bila digunakan untuk Hilirisasi CPO Rp365 T/tahun x 3 = Rp1.095 T Output Tahun ke 4 15 juta ton oleokimia + B100, Tambahan Devisa +$28,4 M = Rp426 T/tahun, Penenrimaan Pajak Rp85 T dari PPh + PNBP, ketersediaan lapangan kerja 400 ribu, gaji Rp5-25 jt, permanen, Multipiler Ekonomi 2,8x. Aset produktif tetap ada Hemat 12 juta KL = $9,6 M/tahun
Sedangkan bila digunakan untuk alokasi Konsumtif dengan anggaran Rp365 T/tahun x 3 = Rp1.095 T
dengan Output tahun ke 4 Daya beli naik sesaat | Tambahan Devisa/Tahun $0. Habis dikonsumsi Penerimaan Pajak/Tahun Rp12 T dari PPN Lapangan Kerja | 100 ribu, upah UMR, temporer Multiplier Ekonomi , 1,3x. Tahun ke-4 hilang , Impor Solar , Tetap 18 juta KL/tahun |
“Skenario konsumtif seperti isi ember bocor. Uang habis, rakyat tetap miskin. Skenario hilirisasi bangun pabrik. Pabriknya tetap ada, pajaknya ngalir terus,” sebut Ganda Mora kepada Wartawan Selasa (2/06/2026).
INPEST memberi roadmap agar CPO tidak lagi dijual mentah:
Menurut Kementerian Perindustrian, 1 kawasan hilirisasi butuh investasi Rp45 T tapi hasilkan ekspor $4,5 M/tahun. BEP 6 tahun.
Pihak | Kondisi Ekspor Mentah | Kondisi Hilirisasi Penuh Rp2.800/kg. Ada harga patokan industri Devisa Negara $62,4 M, stabil karena produk jadi Pendapatan APBN Pajak + dividen BUMN Rp127 T, Kemandirian Energi B100 cukup, stop impor $14 M
Sedangkan bila kita tetap dalam kondidi Ekspor dengan Harga TBS Petani Rp1.800/kg. Ikut harga CPO dunia menghasilkan Devisa Negara $34 M, rentan jatuh, pemasukan APBN Pajak ekspor Rp42 T dengan Kemandirian Energi harus Impor solar 18 juta KL .Maka kita harus berhasil keluar dari middle income trap karena hilirisasi untuk CPO.
INPEST memberi ilustrasi sederhana:
“Pilih mana: kenyang sebulan atau sejahtera 20 tahun? Negara tidak boleh berpikir jangka pendek,” tutup Tutup Ganda Mora .

Tidak ada komentar