
Jakarta,beritapresisi.com – Program B50 yang diluncurkan Pemerintah sebagai upaya ketahanan energi dari minyak sawit, dinilai *Lembaga Independen Pembawa Suara Transparansi (INPEST)* belum mampu menjawab persoalan kelangkaan BBM bersubsidi di lapangan.
Berdasarkan hasil *investigasi INPEST di wilayah Pulau Sumatera*, kondisi di SPBU justru semakin memprihatinkan.
“*Setiap SPBU dipadati truk berat dengan antrian hingga 2 Km*. Ini kami temukan langsung di Jl. Lintas Sumatera Km 18, Pangkalan Kasai, Kec. Seberida, Kab. Indragiri Hulu, Riau pada Jumat 17.07.2026 pukul 17.37 WIB,” ungkap Ir. Marganda Simamora, SH., http://M.Si* selaku Ketua Umum DPN INPEST.
Dari dokumentasi lapangan INPEST terlihat jelas antrian panjang truk kontainer, truk tangki, dan truk barang memenuhi badan jalan. Sementara itu *kendaraan umum, angkot, dan nelayan yang seharusnya diprioritaskan sebagai penerima manfaat BBM bersubsidi justru sulit mendapatkan solar
“Padahal kuota per provinsi sudah didistribusikan Pertamina Niaga” Ini artinya ada masalah serius dalam pengawasan distribusi dan penyaluran di lapangan,” tegas Ganda Mora.

INPEST menilai peluncuran B50 belum berdampak pada keterjangkauan dan ketersediaan solar untuk rakyat kecil.
“*Kami mendesak BPH Migas, Pertamina, dan Aparat Penegak Hukum untuk turun langsung melakukan pengawasan*. Jangan sampai subsidi negara habis, tapi masyarakat kecil tetap antri dan tidak kebagian,” pungkasnya.
INPEST akan terus memantau dan melaporkan kondisi ini agar program energi nasional benar-benar *tepat sasaran, tepat jumlah, dan tepat waktu*.

Tidak ada komentar